Pilkada Kab. Tasikmalaya. Acep Zamzam Noor: Parpol Lebih Memilih Calon Yang Akan Menguntungkannya

- 31 Maret 2024, 09:30 WIB
Ilustrasi Pilkada Serentak 2024
Ilustrasi Pilkada Serentak 2024 /

IDEJABAR – Riuhnya Pilkada Kota Tasikmalaya yang diramaikan oleh calon-calon baru dan muda, telah memunculkan dinamika yang ketat dan hidup dalam prosesnya. Pasalnya, Pilkada di Kota Tasik terlaksana tanpa adanya petahana, sehingga seluruh kandidat memulai dari titik yang sama.

Berbeda dengan Pilkada di Kota Tasik, Pilkada Kabupaten Tasikmalaya justru masih didominasi oleh petahana dan pemain-pemain lama. Jika muncul pemain baru dan muda hanyalah adanya kesertaan Asep Sopari Al Ayubi dalam kontestasi tersebut. Asep Sopari yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kab. Tasikmalaya merupakan pendatang baru yang akan diusung oleh Partai Gerindra.

Pilkada Kab. Tasikmalaya Masih Dikuasai Petahana dan Pemain Lama

Ketiadaan munculnya orang muda dan progresif dalam Pilkada Kab. Tasik mengundang keprihatinan berbagai kalangan. Padahal, di Kab. Tasik banyak Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan, Lembaga Sosial dan tokoh-tokoh muda yang memiliki kualitas dan kredibiltas mumpuni. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah memiliki prestasi, reputasi dan dikenal di tingkat nasional.

Acep zamzam Noor, Penyair, budayawan dan Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiyat
Acep zamzam Noor, Penyair, budayawan dan Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiyat

Budayawan dan Penyair Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor, mengaku tidak kaget dengan kondisi dan situasi seperti itu. Pasalnya, kata Acep, selama ini calon  yang dimunculkan atau didukung parpol dalam setiap Pilkada atau Pilwalkot itu adalah calon yang akan menguntungkan parpolnya. Sehingga wajar, jika calon-calon itu tidak dikenal atau tidak mengenal masyarakatnya.

“Selama sikap dan cara pandang parpol seperti itu, ya pasti orang-orang yang dicalonkannya itu adalah mereka-mereka yang akan menguntungkan parpolnya,” ungkap Acep yang juga Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiat kepada IDEJABAR saat dihubungi via selulernya, Sabtu (30/03/24).

Baca Juga: Pilkada Kota Tasikmalaya: Pertarungan Antara Politisi, Mantan Birokrat, Pengusaha, Aktivis dan Ulama

Diingatkan Acep, pencalonan seorang Bupati atau Wali Kota itu seharusnya sesuai dan sejalan dengan keinginan serta kebutuhan masyarakat. Bukan hanya keinginan dan kebutuhan parpol semata agar masyarakat benar-benar merasa memiliki.

“Jadi ya selama proses pencalonannya seperti itu, ya jangan harap muncul Bupati atau Wali Kota yang bisa memenuhi dan memahami keinginan masyarakatnya,” papar pelukis yang juga alumni Seni Rupa ITB ini.

Baca Juga: Pilkada Kota Tasikmalaya : DPP P3 Akan Turunkan Tim Survey Ke Kota Tasik

Berbeda dengan Acep Zamzam, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Siliwangi (Unsil), Dr. Yusuf Abdullah melihat ada tiga hal yang membuat tersumbatnya proses transformasi ketokohan itu. Pertama Edukasi yakni proses penyadaran kepada masyarakat bahwa ketokohan itu tidak muncul ujug-ujug. Tapi melalui proses yang berkesinambungan, sehingga segalanya menjadi terukur.

Kedua Sosialisasi yakni munculnya potensi-potensi muda itu harus disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka mengetahui dan mengenalnya. “Ketiga regenerasi, ini penting karena lambatnya kemunculan tokoh muda, kerap dituding akibat lambatnya regenarasi,” tutur Yusuf saat dihubungi  IDEJABAR via selulernya, Sabtu (30/03/24)***

 

Editor: Edi Purnawadi

Sumber: Wawancara


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah